Ketika sebahagian besar pasukan Ottoman berada Anatolia tengah, salah satu penguasa Servia, Lazar mengambil kesempatan. Bersama banyak pimpinan feodal lokal lainnya,  pasukannya mengalahkan pasukan kecil Ottoman pada Pertempuran Plocnik tahun 1386, dan mengusir keberadaan Ottoman keluar dari Serbia selatan. Kemenangan ini meningkatkan kekuasaan Lazar sepuluh kali lipat dan ia berhasil membentuk persekutuan besar terdiri dari orang-orang Serbia, Bulgaria, Bosnia, dan Albania. Bahkan sejumlah bangsawan Bohemia dan Hungaria bergabung dalam pasukannya.

Menghadapi situasi ini, maka pada bulan Juni 1389, sang penguasa Ottoman, Sultan Murad bersama anak-anaknya, yaitu Bayazid dan Yakub, bergerak menuju serbia. Ternyata Lazar dan pasukannya menunggu mereka di di Kosovo, yang dalam bahasa Serbia berarti : lapangan burung-burung hitam.

Ada sebuah peristiwa menarik saat itu. Seorang menteri Sultan Murad yang saat itu datang dengan membawa Al-Qur’an, tanpa sengaja membuka mushafnya dan pandangannya jatuh tepat pada ayat ini, “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS Al-Anfal 65)
Seluruh yang hadir merasakan kemenangan akan segera tiba dan kaum muslimin bersuka cita dengannya.

Saat itu pasukan Usmani terdiri dari pasukan kavaleri ringan, kavaleri berat, Infanteri, dan Jennisari. Pasukan Kavaleri ringan berjumlah besar yang disebut Akinji. Mereka bersenjatakan busur komposit, kapak, gada, dan biasanya beraksi sebagai penyerbu ataupun pasukan pengapit. Pasukan Kavaleri berat disebut dengan Sipahi, bersenjata lembing dan busur. Infantri non-reguler disebut sebagai Azap, bersenjata busur, tombak atau halberd. Dan terakhir, PAsukan Janissari yang berfungsi sebagai pelindung Sultan, memiliki satuan-satuan kavaleri maupun infantri. Ottoman juga memiliki meriam generasi awal di barisan mereka. Diperkirakan jumlah pasukan yang dibawa Sultan Murad mencapai 27.000 – 40.000 orang.

Sedangkan dipihak Serbia, sebagian besar pasukan kavalerinya merupakan kavaleri berat. Hanya sedikit, pasukan kavaleri ringan Hussar-nya. Pasukan Infantri Serbia menggunakan busur dan senjata tarung, bergantung situasi. Diperkirakan jumlah pasukan Lazar sekitar 12.000- 30.000 orang.

Lapangan Kosovo dikelilingi pegunungan di bagian barat dan timur. Lazar paham bahwa ia tidak akan bisa menghadapi Ustmani di lapangan terbuka di utara dan berharap agar kondisi medan pertempuran itu dapat mencegah musuhnya memanfaatkan keunggulan jumlah mereka. Sang Pangeran memimpin 15.000 prajurit di tengah dengan kavaleri di garis depan dan infantri di barisan berikutnya. Sayap kiri dipimpin oleh Vlatko Vukovic, sementara sayap kanan dipimpin oleh bangsawan lokal, Vuk Brankovic. Keduanya memiliki sekitar 7.000 prajurit.

Di pihak berlawanan, Sang Sultan berada di tengah bersama 20.000 pasukan regulernya. Sementara Yakub memimpin 15.000 prajurit Anatolia di sayap kiri. Dan Bayezid di sayap kanan dengan jumlah pasukan yang sama. Garis depan Ottoman terdiri dari pemanah yang telah menggali parit pelindung kecil yang berisi kayu-kayu tajam. Mayoritas artileri diletakkan di tengah kedua pasukan. Pertempuran dimulai pada pagi hari 15 Juni dengan tembakan bola meriam-meriam Serbia, yang gagal mencapai barisan Ottoman yang berada di luar jangkauan. Meriam-meriam Ottoman juga tidak efektif, maka pemanah diperintahkan untuk maju. Lazar merespons dengan memerintahkan kavalerinya maju, tetapi serangan ini dihentikan oleh pasukan tengah dan sayap kanan Ottoman. Banyak korban yang tewas dari pihak kavaleri Serbia, tetapi di sayap kanan serangannya berhasil.

Pasukan Serbia mendorong pasukan Usmani sampai ke kemah mereka. Namun Bayezid di sayap kanan Ottoman juga mendorong sayap kiri Serbia setelah sempat kesulitan di awal. Lazar tetap memegang inisiatif dan Sultan Murad hampir panik. Momen berikutnya masih diperdebatkan dengan panas di Balkan. Pimpinan sayap kanan pasukan Serbia, yaitu Vuk Brankovic, meninggalkan medan tempur dengan hampir semua pasukan di bawah komandonya. Sebagian mengatakan bahwa dia adalah seorang pengkhianat dan telah membuat kesepakatan dengan Ottoman untuk meninggalkan pertempuran. Pendapat lainnya mengklaim bahwa dia menyelamatkan pasukanya sehingga ia nantinya masih bisa melawan serbuan Ottoman dalam dua dekade ke depan. Dengan kejadian ini, Sayap kiri pasukan Ottoman menjadi bebas, dan kemudian maju menyerang pasukan tengah Serbia dari samping. Pasukan Serbia mundur sedikit demi sedikit di bawah tekanan keras dari musuh, dan dengan segera, keseluruhan pasukan mereka terkepung.
Dalam pada itu, salah satu dari ksatria Serbia yang bernama Milos Obilic pura-pura menyerahkan diri kepada pasukan Ottoman. Ia ditangkap pengawal Sultan. Lalu ia berkata ingin berbicara dengan Sultan secara langsung dan akan menyatakan diri masuk Islam dihadapannya. Mendengar alasan demikian, Sultan mengisyaratkan agar pengawal itu melepasnya. Situasi ini dimanfaatkannya untuk berpura-pura ingin mencium tangan Sultan, padahal dengan cepat kilat dia mengeluarkan pisau beracun dan menikamnya pada diri Sultan. Sehingga Sultan terluka parah dan akhirnya wafat.

Adapun kata-kata terakhir Sultan Murad adalah :“Tidak ada yang patut saya utarakan saat perjalanan terakhirku, kecuali saya harus menyatakan syukur kepada Allah, karena sesungguhnya dia adalah Yang Maha Mengetahui semua yang gaib yang mengabulkan permohonan seorang hamba yang fakir. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada yang berhak untuk dipuja dan disyukuri kecuali Dia. Kini perjalanan hidupku telah mendekati akhir dan saya melihat di depan mata kemenangan tentara Islam. Taatilah oleh kalian anakku Yazid. Janganlah kalian menyiksa para tawanan dan jangan pula kalian sakiti mereka, janganlah kalian perlakukan mereka dengan cara yang tidak baik. Sejak kini saya tinggalkan kalian dan saya tinggalkan tentaraku yang menang untuk menuju rahmat Allah. Dia-lah yang akan menjaga negara kita dalam semua hal”.
Sultan Murad meninggal dalam keadaan syahid saat berusia 65 tahun. Maka komando Pasukan diambil alih oleh Bayazid. Dan Bayazid (1389-1402 M) berhasil menyelesaikan pertempuran ini. Pihak Serbia mengalami kekalahan besar. Pangeran Lazar tewas terbunuh.

Namun dipihak Usmaniyah juga banyak korban. Oleh karena itu, dalam rangka menstabilkan Negara, Bayazid memperistri putri pangeran Lazar. Sedangkan putra pangeran lazar, yaitu Steffan dijadikan penguasa Serbia dan menjadi Vassal Usmaniyah.

 

Sumber : Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Usmaniyah